Cinta Tanah Air

Rasa cinta tanah air adalah rasa kebanggaan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati dan loyalitas yang dimiliki oleh setiap individu pada negara tempat ia tinggal yang tercermin dari perilaku membela tanah airnya, menjaga dan melindungi tanah airnya, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negaranya, mencintai adat atau budaya yang ada dinegaranya dengan melestarikannya dan melestarikan alam dan lingkungan.

Semangat persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat dapat kita lakukan melalui

kegiatan-kegiatan seperti siskamling, kerjabakti dll; dan kegiatan-kegiatan seperti itu

telah diprogramkan melalui organisasi-organisasi pemuda misalnya Karang Taruna dan

KNPI.

Sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya Anda dapat mewujudkan sikap dan tingkah

laku yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat yang merugikan diri sendiri atau

masyarakat, misalnya dengan cara menjauhkan diri dari pengaruh narkotika, obat-obatan

terlarang, minuman keras dan perkelahian.

Karena hal itu akan menghancurkan masa depan bangsa dan negara.

Selain  itu ada  juga contoh-contoh lain yang bias kita lakukan untuk mencintai tanah air kita misalnya dalam kehidupan sehari-hari!

1.     Bangga menjadi orang Indonesia.

2.    Melestarikan Budaya.

3.   Menggunakan Produk Lokal

4.   Hemat Energi.

5.   Harumkan nama Bangsa.

Berdasarkan pada uraian diatas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai budaya lokal dan nasional akan mampu menumbuhkan rasa kebanggaan yang akn melandasi timbulnya rasa cinta tanah air pada pserta didik. Beberapa saran yang dapat diajukan pada berbagai elemen pendidikan maupun elemen terkait lainnya adalah:
1. Merancang sebuah kurikulum yang memiliki muatan budaya lokal dan nasional yang berisi pengetahuan mengenai adat istiadat yang ada didaerah masing-masing dan adat istiadat yang diakui dan dijadikan identitas bangsa serta berisi pengetahuan mengenai nilai-nilai bersama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
2. Menerapkan kurikulum yang berbasis budaya lokal dan nasional mulai dari tingkat pendidikan yang paling rendah.
3. Menentukan metode dan media pembelajaran yang paling tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan.

Penulis:

Suryabrata, S. (1989). Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.
Wardekker, W. L. (2004). Identity, Plurality, and Education. Philosophy of Education Society. http://www.ed.uiuc.edu/EPS/PES-Yearbook/95_docs/wardekker.html.
Alm. Abdul Karim, Drs., M.Pd., Memahami PPKn untuk kelas 1, Bandung: Penerbit Ganesa Ex act, 2000.

Budiyanto, Drs., PPKn kelas 1 SMU, Jakarta: Penerbit PT. Empiris, 1998.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s